Pada mulanya adalah kata. Tapi bukan kata tanpa
niat atau tanpa makna. Berlembar-lembar tulisan
Asasiyat Ustadz Rahmat Abdullah di
Tarbawi
adalah kumpulan sikap, ketegasan, dan mimpi
tentang hari esok yang bergambar terang.
Waktu itu, di rumahnya yang sejuk. Malam
sudah mulai larut. Ia tetap ramah berbincang.
Menerima keinginan
Tarbawi
agar beliau berkenan menuliskan pikiran-pikiran besarnya, dalam
satu rubrik. Misi utamanya adalah
pewarisan. Bila pilihan jatuh kepadanya, itu tak
berlebihan.
Bahwa
seorang Ustadz Rahmat harus bisa dinikmati
ketajaman ruhaninya, pikirannya, keluasan
pandangannya, nasehat, sudut pandang, semangat,
dan perspektifnya oleh sebanyak mungkin orang.
Sejak itu kebersamaan dilakoni. Ustadz Rahmat
pun menjadi keluarga besar
Tarbawi,
dengan segenap dinamikanya.
Maka enam tahun bukan waktu yang singkat. Untuk
terus menjaga proses pewarisan itu. Di tengah
semangat baca yang belum menggembirakan pada
banyak orang. Atau dugaan kemengertian yang
prematur dari sebagian orang yang lain.
Tarbawi
sadar, bahwa orang-orang yang selama ini
mencintainya, mungkin banyak yang tak pernah
membaca tulisan-tulisannya. Mungkin sibuk,
mungkin lelah. Mungkin juga memang mereka merasa
sudah bisa menerka apa isi pikiran guru mereka.
Itu tak jadi soal. Terserahlah...
Tetapi bagi Tarbawi, enam tahun adalah waktu
yang sangat tidak cukup. Sebab ini bukan soal
suka atau tidak suka membaca. Tapi bagaimana kami
berupaya menjembatani proses pewarisan itu.
Begitu pun seorang Ustadz Rahmat masih menyimpan
berjuta keunikan.
Sebagai guru bagi banyak orang, wajar bila
kemudian tidak sedikit yang kehilangan atas
kepergian ustadz Rahmat. Siapapun yang pernah
berinteraksi dengannya, pasti punya kesan khusus.
Mereka yang mencoba bicara tentang zuhud,
mungkin akan menemukan pada sosok ustadz Rahmat.
Yang hendak mengenangnya sebagai
pembimbing yang mengayomi, akan menemukan itu
pada diri ustadz Rahmat. Yang ingin melihatnya
dari perspektif sastra dan seni, pun ada. Yang
ingin bicara politik, dia juga salah satu
anggota DPR.
Yang perlu disadari, mengenang tokoh dari kesan
pribadi masing-masing bisa menimbulkan bias bila
kesan itu akan dipakai untuk melandasi atau
mendasari suatu perspektif atau premis tertentu.
Karena itu, buku "Pilar-Pilar Asasi Warisan sang
Murabbi" yang diterbitkan oleh Tarbawi ini,
menghadirkan pikiran-pikiran Ustadz Rahmat yang
orisinal. Ini bukan kumpulan wawancara yang
ditulis ulang. Bukan pula pidato yang
disimpulkan ulang. Seluruh tema yang ada dalam
buku ini adalah benar-benar tulisan langsung
ustadz Rahmat.
Jadi, mengenal ustadz Rahmat, sebagaimana
mengenal para tokoh sepanjang sejarah, bila
kepentingannya untuk literatur, apalagi sebagai
referensi, kita tidak bisa hanya mendasarkan
pada 'bagaimana kesan kita tentang tokoh itu'.
Suatu kali, Tarbawi mengajukan
keinginan untuk menulis sebuah buku tentang diri
ustadz Rahmat. Bukan biografi, tapi dari sudut
siapa guru-gurunya. Ternyata ia punya banyak
guru. Dari kalangan NU, Muhammadiyah, Persis,
dan juga guru-guru yang tak pernah dikenal oleh
siapapun kecuali dirinya. Kerangka isi sudah
disetujui. Tinggal wawancara. Beliau sangat
antusias menyambut. Sebab yang ingin diangkat
dalam buku ini benar-benar nuansa
ke-Indonesiaannya. Sayang, rencana itu belum
terlaksana. Allah berkehendak lain. Sedih. Tapi
kami harus ikhlas.
Saat itu gagasan tentang konteks ke-Indonesiaan
untuk mengokohkan cita-cita perbaikan diri dan
masyarakat sangat ia dukung. Dengan berbagai
perspektif ia mengutarakan manfaat-manfaatnya.
Konteks ke-Indonesaan, baginya seperti berteduh
di dalam rumah sendiri. Sesuatu yang memberi
efek kedekatan emosional geografis yang sangat
asli.
Maka, ketika
Tarbawi
mengadakan pertemuan dengan keluarga anak-anak
para pejuang negeri ini, anak-anak Agus Salim,
anak-anak Natsir, anak-anak Sjafruddin, Istri
dan anak Bung Tomo, anak-anak Hamka, Syafruddin,
Hatta, Abdul Ghoffar Ismail, Otto Iskandar Di
Nata, Kasman dan Prawoto, dalam susana yang
hangat, ustadz Rahmat sangat-sangat senang. Di
acara itu juga ia menyanyikan lagu tentang
Natsir. Ia bahkan minta supaya acara itu diulang
untuk para kader-kader dakwah.
Membangun mekanisme pewarisan seorang guru
memang lebih sulit dari menangisi kepergiannya.
Ada sedih bersama tangis. Tapi ada sepi bersama
pewarisan yang belum selesai. Apapun, kami
berharap, kami telah berupaya. Setidaknya
memulai. Agar jangan lagi ada guru, panutan,
yang tak punya kesempatan untuk mewariskan
kebesarannya. Lantaran para muridnya tak sempat
mencatat nasehat-nasehatnya. Atau lantaran para
kadernya, tak punya waktu untuk merenungkan
pahatan-pahatan pikiran sang gurunya, dalam
lembar-lembar kertas yang terlihat kusam.
Padahal itu ditulis di antara rintihan sakit dan
kepenatan yang tak kenal jeda. **