Redaksi

Editor in Chief:

Ahmad Zairofi AM

 

Tim Redaksi:

Ahmad Zairofi AM

M. Lili Nur Aulia

Haryo Setyoko

M. Khoyyinuddin

Wasilah

Azhar Suhaimi

Sulthan Hadi

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

   Home
   
 Misi Pewarisan

  Pada mulanya adalah kata. Tapi bukan kata tanpa niat atau tanpa makna. Berlembar-lembar tulisan Asasiyat Ustadz Rahmat Abdullah di Tarbawi adalah kumpulan sikap, ketegasan, dan mimpi tentang hari esok yang bergambar terang.

        Waktu itu, di rumahnya yang sejuk. Malam sudah mulai larut. Ia tetap ramah berbincang. Menerima keinginan Tarbawi agar beliau berkenan menuliskan pikiran-pikiran besarnya, dalam satu rubrik. Misi utamanya adalah pewarisan. Bila pilihan jatuh kepadanya, itu tak berlebihan. Bahwa seorang Ustadz Rahmat harus bisa dinikmati ketajaman ruhaninya, pikirannya, keluasan pandangannya, nasehat, sudut pandang, semangat, dan perspektifnya oleh sebanyak mungkin orang. Sejak itu kebersamaan dilakoni. Ustadz Rahmat pun menjadi keluarga besar Tarbawi, dengan segenap dinamikanya.

         Maka enam tahun bukan waktu yang singkat. Untuk terus menjaga proses pewarisan itu. Di tengah semangat baca yang belum menggembirakan pada banyak orang. Atau dugaan kemengertian yang prematur dari sebagian orang yang lain. Tarbawi sadar, bahwa orang-orang yang selama ini mencintainya, mungkin banyak yang tak pernah membaca tulisan-tulisannya. Mungkin sibuk, mungkin lelah. Mungkin juga memang mereka merasa sudah bisa menerka apa isi pikiran guru mereka. Itu tak jadi soal. Terserahlah...

         Tetapi bagi Tarbawi, enam tahun adalah waktu yang sangat tidak cukup. Sebab ini bukan soal suka atau tidak suka membaca. Tapi bagaimana kami berupaya menjembatani proses pewarisan itu. Begitu pun seorang Ustadz Rahmat masih menyimpan berjuta keunikan.

        Sebagai guru bagi banyak orang, wajar bila kemudian tidak sedikit yang kehilangan atas kepergian ustadz Rahmat. Siapapun yang pernah berinteraksi dengannya, pasti punya kesan khusus. Mereka yang mencoba bicara tentang zuhud, mungkin akan menemukan pada sosok ustadz Rahmat. Yang hendak mengenangnya  sebagai pembimbing yang mengayomi, akan menemukan itu pada diri ustadz Rahmat. Yang ingin melihatnya dari perspektif sastra dan seni, pun ada. Yang ingin bicara politik, dia juga salah satu anggota DPR.

        Yang perlu disadari, mengenang tokoh dari kesan pribadi masing-masing bisa menimbulkan bias bila kesan itu akan dipakai untuk melandasi atau mendasari suatu perspektif atau premis tertentu. Karena itu, buku "Pilar-Pilar Asasi Warisan sang Murabbi" yang diterbitkan oleh Tarbawi ini, menghadirkan pikiran-pikiran Ustadz Rahmat yang orisinal. Ini bukan kumpulan wawancara yang ditulis ulang. Bukan pula pidato yang disimpulkan ulang. Seluruh tema yang ada dalam buku ini adalah benar-benar tulisan langsung ustadz Rahmat.

        Jadi, mengenal ustadz Rahmat, sebagaimana mengenal para tokoh sepanjang sejarah, bila kepentingannya untuk literatur, apalagi sebagai referensi, kita tidak bisa hanya mendasarkan pada 'bagaimana kesan kita tentang tokoh itu'. 

          Suatu kali, Tarbawi mengajukan keinginan untuk menulis sebuah buku tentang diri ustadz Rahmat. Bukan biografi, tapi dari sudut siapa guru-gurunya. Ternyata ia punya banyak guru. Dari kalangan NU, Muhammadiyah, Persis, dan juga guru-guru yang tak pernah dikenal oleh siapapun kecuali dirinya. Kerangka isi sudah disetujui. Tinggal wawancara. Beliau sangat antusias menyambut. Sebab yang ingin diangkat dalam buku ini benar-benar nuansa ke-Indonesiaannya. Sayang, rencana itu belum terlaksana. Allah berkehendak lain. Sedih. Tapi kami harus ikhlas.

       Saat itu gagasan tentang konteks ke-Indonesiaan untuk mengokohkan cita-cita perbaikan diri dan masyarakat sangat ia dukung. Dengan berbagai perspektif ia mengutarakan manfaat-manfaatnya. Konteks ke-Indonesaan, baginya seperti berteduh di dalam rumah sendiri. Sesuatu yang memberi efek kedekatan emosional geografis yang sangat asli.

         Maka, ketika Tarbawi mengadakan pertemuan dengan keluarga anak-anak para pejuang negeri ini, anak-anak Agus Salim, anak-anak Natsir, anak-anak Sjafruddin, Istri dan anak Bung Tomo, anak-anak Hamka, Syafruddin, Hatta, Abdul Ghoffar Ismail, Otto Iskandar Di Nata, Kasman dan Prawoto, dalam susana yang hangat, ustadz Rahmat sangat-sangat senang. Di acara itu juga ia menyanyikan lagu tentang Natsir. Ia bahkan minta supaya acara itu diulang untuk para kader-kader dakwah.

          Membangun mekanisme pewarisan seorang guru memang lebih sulit dari menangisi kepergiannya. Ada sedih bersama tangis. Tapi ada sepi bersama pewarisan yang belum selesai. Apapun, kami berharap, kami telah berupaya. Setidaknya memulai. Agar jangan lagi ada guru, panutan, yang tak punya kesempatan untuk mewariskan kebesarannya. Lantaran para muridnya tak sempat mencatat nasehat-nasehatnya. Atau lantaran para kadernya, tak punya waktu untuk merenungkan pahatan-pahatan pikiran sang gurunya, dalam lembar-lembar kertas yang terlihat kusam. Padahal itu ditulis di antara rintihan sakit dan kepenatan yang tak kenal jeda. **

         Selamat mengenang kembali KH. Rahmat Abdullah..

 

Salam,

 

Ahmad Zairofi AM

Editor in Chief